Menjawab Tuduhan Ary Ginanjar Agustian ESQ Sesat

Sudah banyak yang melontarkan tudingan dalam beberapa saat terakhir tentang suatu kegaduhan merebak, terutama di dunia maya, terkait fatwa sesat ESQ oleh salah seorang mufti di Malaysia. Aneka berita dan komentar hilir mudik masuk ke surel saya. Mayoritas isinya mencaci, menghujat ESQ dengan kata dan kalimat yang –meminjam tagline Tempo—tidak enak dibaca dan tak perlu.

Jujur, membaca berbagai berita itu membuat saya mixed feeling: sedih, geram, sakit hati, kadang juga menggelikan. Saya tidak bakal berpanjang kalam menulis prolog ini. Ada baiknya kamu menyimak deretan catatan kritis saya berikut ini:

1. Fatwa sesat ESQ dikeluarkan oleh 1 orang mufti dari tiga belas mufti yang ada di Malaysia. Menariknya, Sang Mufti yang menyesatkan ESQ itu tak menghadiri pertemuan antara Ary Ginanjar  Agustian dan tiga belas mufti lainnya pada Juni 2010 dan belum ikut training ESQ.
Ada tiga pertanyaan krusial disini:
1) Kenapa ia yang tak hadir, tetapi lalu berani menyatakan ESQ sesat?
2) Kenapa dia yang belum pernah ikut pelatihan ESQ, berani menyatakan ESQ sesat?
3) Mengapa dari 14 mufti, cuma 1 yang menyatakan ESQ sesat?

2. Sejauh yang saya amati, mengapa orang-orang yang menyebut ESQ sesat hanya itu-itu saja? Dan mohon maaf, kebanyakan mereka merupakan ulama yang identik dengan kelompok tertentu yang selama ini terkenal sungguh mudah memvonis orang atau kelompok lain. sementara itu, sama persis dengan di atas, situs-situs yang konsisten memuat pemberitaan ESQ sesat, hingga saat ini, juga yang itu-itu saja. Dan aku melihat, situs-situsnya, gampang sekali ditebak: berasal dari kelompok mana dan apa latar belakangnya.

3. Terkait dengan poin 2 di atas, kenapa ulama-ulama yang selama ini menjadi mainstream umat Islam di Indonesia, tak menyatakan bahwa ESQ sesat? Muhammadiyah dan NU kompak berucap: “ESQ tidak sesat.” Bahkan MUI, sebagai lembaga yang mempunyai otoritas mengeluarkan fatwa pun menyatakan tak ada kesesatan ESQ.

4. Sejauh yang saya amati, merujuk pada 10 kriteria MUI tentang ajaran sesat (diantaranya adalah mengingkari salah satu rukun iman dan rukun islam; meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an; mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir, dst), tidak ada satupun yang dengan kuat bisa dijadikan landasan untuk menyatakan ESQ sesat (untuk hal ini aku akan buat tulisan tersendiri). ESQ justru menegakkan rukun Iman dan rukun Islam, membuat peserta-peserta mencintai Nabi Muhammad SAW serta menunjukkan mukjizat Al Qur’an. Lantaran memang tidak ada kriteria yang bisa menjerat ESQ, makanya, semenjak dulu sampai kini. Selain tersebut tak mungkin ESQ bisa memiliki alumni sampai nyaris satu juta orang apabila mengajarkan kesesatan.

5. Aneka tulisan yang masuk ke e-mail aku dan beredar di dunia maya, telah tidak proporsional, adil, objektif. sangat dangkal analisanya, masalah disederhanakan tidak logis dan sangat. Siapapun yang berpikiran waras, bersih dan cerdas, pastinya akan ketawa tergelak-gelak saat membaca kalimat semacam ini. Sebab penuh dengan liberalisme dan pluralisme, kH Anwar Ibrahim meragukan ajaran ESQ, Pasalnya, sewaktu Ary mendirikan ESQ tahun 2000 bertepatan dengan lahirnya gerakan Islam liberal di Indonesia yang diwakili JIL (Jaringan Islam Liberal).

Lantaran mempunyai tanggal yang sama saat dibangun, ESQ merupakan JIL hanya disimpulkan oleh kok bisa-bisanya seorang ulama Lalu apakah berarti semua organisasi yang didirikan di tahun 2000 bisa dihubungkan dengan JIL (Jaringan Islam Liberal)? Saya akan buat tulisan tersendiri tentang ini. Tunggu saja.

Masih banyak catatan kritis yang mau saya buat. Tetapi untuk sementara cukup disini dulu. Saya sungguh tidak kuasa untuk melanjutkanya sekarang sebab merasa sedih dengan potret umat Islam saat ini. Ulama dan pemimpinnya mudah sekali menyesatkan kelompok lain, umat menjadi heran.

Banyak yang menuding Ary Ginanjar Agustian Sesat