Menantu Dan Mertua Suka Tidak Akur – Sudah bukan rahasia lagi kalau di dalam rumah tangga perkawinan, yang namanya menantu dan mertua suka tidak akur. Para menantu perempuan biasanya meyakini kalau yang namanya mertua itu ‘sulit’, ‘cerewet’ dan ‘galak’. Pemikiran seperti itu sih biasanya jarang diungkapkan secara langsung ya, namun lebih banyak menjadi curhatan kanan kiri yang biasa kita baca lewat media sosial. Kadangkala curhatannya pun dapat membuat kita menjadi ‘geregetan’ alias tak sabar untuk melabrak.

Mertua itu adalah orang tua kedua bagi kita setelah orang tua kita sendiri. Sama halnya dengan setiap manusia yang mempunyai karakter yang berbeda-beda dan bermacam-macam, mertua juga begitu. Tapi mungkin karena kita banyak mendengar cerita orang-orang, atau banyak membaca di media sosial, sehingga image yang terlintas pertama kali adalah ‘mertua itu pasti menyeramkan’. Padahal ga selamanya begitu. Bisa jadi karena kita sudah terlebih dahulu membentengi diri dan tidak mau menerima mertua kita apa adanya, sehingga anggapan menantu dan mertua tidak mungkin akur tetap ada hingga sekarang. Padahal yah, kalau semua dibicarakan dengan baik-baik, saya yakin pasti hubungan kekeluargaannya akan terus terjaga dengan baik dan┬áharmonis.

Menantu Dan Mertua Suka Tidak Akur

Menantu Dan Mertua Suka Tidak Akur ? Bisa Jadi Ini Sebabnya

Mertua suka ikut campur dalam urusan rumah tangga kita

Namanya orang tua pasti selalu memperhatikan gerak-gerik anaknya. Terlebih lagi kalau ternyata anaknya mendapat perlakuan yang ‘tidak sesuai’ dengan ekspektasi mereka. Misalnya saja dalam hal memasak. Masakan yang keasinan akan selalu menjadi biang kerok keributan antara menantu dan mertua. Padahal sebenarnya apabila saling memaklumi maka hal tersebut bisa dihindari. Mertua harus mengerti kalau menantunya mungkin baru saja belajar memasak, sehingga mungkin bisa disediakan waktu untuk memasak bersama-sama dan sang mertua bisa menurunkan ilmunya kepada menantunya. Menantunya sendiri juga harus mampu untuk meredam semua kegalauan yang disebabkan akibat omongan dari sang mertua. Walaupun ingin membalasnya tapi alangkah baiknya cukup mengiyakan saja, sehingga keributan dalam rumah tangga dapat dihindari.

Menantu yang cemburu kepada pasangannya karena mempunyai anggapan kalau mertua lebih penting

Saat kita berada dalam suatu keadaan dimana kita harus memilih, apakah mengikuti keinginan pasangan kita atau mengikuti keinginan orang tua kita, disanalah keributan akan muncul. Ini namanya buah simalakama. Melakukan hal manapun adalah suatu kesalahan. Kalau kita menuruti keinginan orang tua maka pasangan kita bisa menjadi cemburu karena kita dianggap tidak mau mendengarkan dia. Sebaliknya juga begitu. Kalau kita menuruti keinginan pasangan kita, maka orang tua kita pun bisa timbul rasa cemburu. Hal yang terbaik adalah membicarakan ini bersama-sama dan mencarikan solusi yang terbaik bagi keduanya sehingga keributan bisa dihindarkan. Karena apabila keributan terjadi karena masalah ini yang paling pusing adalah kita sendiri. Kita tidak mungkin menyalahkan kedua belah pihak. Yah. Karena buah simalakama tadi. Melakukan hal manapun adalah sebuah kesalahan.

Mudah tersinggung saat diberikan nasihat

Wanita itu adalah mahluk yang sensitif. Omongan sekecil apapun, walaupun tidak berdampak besar, kalau sudah dirasa tidak disukai akan menjadi sebuah hinaan bagi dirinya. Ada baiknya nasihat-nasihat tersebut dipahami dengan baik dan benar. Apabila bingung, cobalah untuk ditanyakan secara baik-baik supaya jelas maksudnya, karena kadang-kadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan dari sebuah ucapan, padahal sebenarnya ucapan tersebut memiliki arti lain yang sebelumnya tidak kita pikirkan. Sikap terburu-buru dalam mengambil kesimpulan dari suatu ucapan bisa menyebabkan terjadinya keributan yang besar. Hal ini bisa menimbulkan rasa ketidakpercayaan terhadap sesama anggota keluarga.

Tidak suka membaur dengan keluarga pasangan karena merasa minder

Ada kalanya kita harus lebih memilih melakukan pekerjaan kantor atau urusan keluarga. Pilihan semacam ini kadangkala juga bisa menimbulkan efek yang negatif. Apalagi jika kita jarang berkumpul dengan keluarga dari pasangan kita. Bisa-bisa dianggap kita ini sombong. Padahal kita mempunyai alasan untuk tidak berkumpul bersama. Namun sering kumpul-kumpul bersama keluarga pasangan bisa menambah keharmonisan dalam keluarga.

Terlalu perhitungan atas biaya dan lain-lainnya

Setelah kita menikah, kita mempunyai sebuah tanggung jawab untuk tetap menafkahi orang tua kita. Ada kalanya hal-hal semacam ini bisa menimbulkan percekcokan dalam keluarga. Hal ini timbul karena saling perhitungan dengan jumlah yang kita berikan kepada masing-masing orang tua. Padahal hal semacam ini seharusnya dibicarakan dengan baik-baik dan jalani dengan ikhlas. Toh ini salah satu bukti kita terus berbakti kepada orang tua kita.

Pada akhirnya mertua juga adalah bagian dari keluarga kita. Suka atau tidak suka mereka adalah orang tua kita juga. Kita menikah dengan anaknya, berarti kita telah menjadi sebuah keluarga yang lebih besar. Demikianlah sekilas informasi tentang Menantu Dan Mertua Suka Tidak Akur. Semoga informasi ini mengatasi semua kegelisahan yang ada dalam benak pasangan yang baru saja menikah.

Kenapa Menantu Dan Mertua Suka Tidak Akur ? Mungkin Ini Penyebabnya